Aku hidup seperti jam tua di dinding rumah lama, berdetak tepat waktu, tapi tak pernah benar-benar ke mana-mana. Detik demi detik melangkah, tapi aku hanya berputar dalam lingkar yang sama: bangun, bergerak, kembali tidur, seperti jarum pendek dan panjang yang saling mengejar, padahal mereka tahu, ujungnya akan bertemu di tempat yang sama lagi.
Kadang aku bertanya, apakah waktu benar-benar berjalan maju, atau kita hanya disesatkan oleh bunyi "tik-tok" yang terdengar seperti napas tapi tanpa kehidupan? Hidupku adalah pukul enam yang selalu pagi, pukul dua belas yang selalu lapar, pukul sembilan yang selalu mengantuk, tapi tak pernah ada jam yang menandakan "aku sungguh hidup."
Aku tersenyum pada orang-orang, tapi jam dalam dadaku hanya berdetak karena kebiasaan, bukan karena rasa. Mereka bilang waktu menyembuhkan segalanya, tapi bagaimana jika waktu malah mengubur perlahan detak jiwaku di antara rutinitas dan pengulangan? Setiap hari adalah salinan dari kemarin, dan aku menjadi bayangan dari diriku sendiri, yang tak lagi bertanya jam berapa, karena jawabannya selalu sama: saatnya bertahan.
~Metafora Alunara~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar